Profil Biodata Mita Diran

6847 views

idBeritaku.com – Itu hanya tiga ungkapan duka cita yang ditujukan pada Mita Diran, pemilik akun @mitdoq. Masih ada puluhan ucapan lain yang membanjir di sana. Sebagian dari kawan dekatnya, sebagian lagi dari orang-orang yang bahkan tak pernah dikenal dan ditemui Mita.

Sponsored Ads

Berita meninggalnya gadis 27 tahun itu memang mengejutkan. Sabtu, 14 Desember 2013 pagi Sang Ibunda Maya Syahrial masih berkomunikasi dengan putrinya itu melalui telepon. Ia bertanya pukul berapa Mita pulang semalam. “Setengah satu pagi,” jawab Mita.

Namun, ada keraguan dalam suara itu. Maya yakin, putrinya lagi-lagi tidur di kantor. Memang selalu begitu setiap kali lembur. Masalahnya, selama bekerja sebagai copywriter di “Young & Rubicam Indonesia,” Maya hampir tak pernah melihat Mita tidak lembur.

Sponsored Ads

“Mita nggak bisa pulang ibu, karena Mita harus lembur,” selalu begitu alasannya. Bahkan di akhir pekan seperti hari Minggu pun, ia selalu lembur.

Sabtu pagi itu, rupanya kali terakhir Maya mendengar suara putrinya. Minggu, 15 Desember 2013 pukul 00.30 pagi ia ditelepon. Putrinya kolaps. Sekitar pukul 23.30 Sabtu malamnya, Mita pingsan di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan. Ia dilarikan taksi ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

“Katanya jantungnya sudah berhenti,” kata Maya lagi padaVIVAlife, Senin, 16 Desember 2013 di rumah duka, kawasan Bintaro. Beberapa sumber menyebutkan Mita sempat koma, namun tak sampai 24 jam ia mengembuskan napas terakhir.

Hasil CT Scan menunjukkan, pembuluh darah di otaknya telah pecah. “Otaknya sudah damage,” kata Maya prihatin. Kadar gula di tubuhnya juga tinggi.

Usut punya usut, meninggalnya Mita diduga dipicu kerja yang terlalu keras. Diketahui, ia baru saja bekerja 30 jam tanpa henti. Itu terlihat dari akun Twitter-nya: “30 hours of working and still going strooong”. Itu ditulis dua jam sebelum ia pingsan.

Sayang, Maya tak tahu menahu soal pola kerja putrinya yang sampai 30 jam itu. Apakah benar-benar kerja tanpa henti, atau masih menyisakan waktu istirahat. Yang ia tahu, Mita memang gila kerja. Di rumah, sering ia gunakan alarm untuk mengingatkan putrinya untuk bekerja.

Hanya saja, Mita bandel. Baru sebentar, ia sudah berkutat lagi dengan komputernya.

Candu Kafein

Mita pernah operasi kista, 15 Desember 2012 lalu. Namun, Maya menuturkan, itu tak ada hubungan dengan meninggalnya Mita kini. Selama ini, ia melanjutkan, putrinya tak pernah mengeluhkan sakit yang serius. Hanya sakit kepala dan batuk-batuk saja.

Kata Maya, Mita tak pernah mau diminta periksa ke dokter. Ia beralasan, semua hanya karena tubuh yang terlalu lelah. Tapi ia juga tak mau beristirahat. Tiga hari sebelum meninggal, peraih Ambient Finalist Citra Pariwara 2012 itu lagi-lagi mengeluh pusing.

“Dia mengeluh, kok kepala pusing banget sampai ke leher-leher,” ujar Maya.

Tapi, keluhan itu disampaikan pada ibu keduanya. Orang tua Mita memang telah bercerai. Ayahnya menikah lagi, dan tinggal bersama istri barunya di sebuah apartemen di Slipi. Kali waktu Mita pulang ke rumah Maya di Bintaro, di waktu yang lain lagi ia pulang ke Slipi.

Mendengar putrinya mengeluh sakit kepala, Maya menyarankan ke dokter. Saat itu, ayahnya kebetulan tengah bertugas di Solo, Jawa Tengah. Namun lagi-lagi Mita menolak. Ia menahan sakitnya. Maya menuturkan, di laci kamar Mita banyak sekali obat sakit kepala berdosis tinggi.

Tak hanya itu, ia juga rutin mengonsumsi minuman suplemen energi. Sudah bertahun-tahun itu dilakukannya. Meski dilarang, Mita membandel. Jika Maya membuang minuman itu, Mita marah.

“Mita harus minum ini, Bu. Kalau nggak ada itu, Mita nggak melek. Mita harus kerja, nyerahinemail ke bos jam sekian,” begitu kata pemilik nama asli Pradnya Paramitha itu seperti yang dituturkan ibunya.

Kandungan dalam minuman itu ternyata berdampak buruk pada kesehatan. Dokter menyebutkan, kafein dalam minuman itulah yang mempercepat denyut jantung Mita sampai akhirnya pembuluh darah di otaknya pecah dan ia kolaps.

Bahaya Lembur

Bekerja terlalu keras memang berbahaya bagi kesehatan. Menurut Dr Ari F Syam, Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM tubuh seharusnya membagi secara adil waktu 24 jam dalam sehari. Delapan jam untuk bekerja keras, delapan jam untuk bekerja ringan, dan delapan jam untuk istirahat.

Jika tubuh dipaksa bekerja lebih dari itu, sistemnya akan eror. Yang pertama diserang adalah otak, lalu otot. “Karena itu orang sering migrain dan vertigo. Otak tidak diajak istirahat,” kata Ari melanjutkan. Tanda saat otak sudah terlalu lelah, adalah turunnya konsentrasi.

Kemudian, otot-otot pun akan melemah. Menurut Ari, itu merupakan sebagian sinyal tubuh untuk menunjukkan dirinya lelah. Bagi tubuh, itu adalah bentuk proteksi diri. Sebab, daya tahannya menurun. “Misalnya sakit kepala, batuk pilek, konsentrasi turun, dan mencret,” Ari menyebutkan.

Jika sudah begitu, seharusnya tubuh diistirahatkan. “Ada proses pergantian zat-zat rusak dalam tubuh yang hanya bisa dilakukan ketika seseorang tidur,” Ari menerangkan. Ketika itu tidak dilakukan, akibatnya fatal. Seperti Mita, bisa-bisa berujung pada kematian.

Apalagi jika ada risiko penyakit berat lainnya, seperti jantung atau darah tinggi. Jantung yang terus dipacu, membuat pembuluh darah makin tertekan dan darah tinggi makin naik.

Namun, Ari menjelaskan, tak mungkin seseorang meninggal hanya karena kelelahan bekerja. “Kalau meninggal mendadak itu tidak mungkin,” tegasnya. Sebab, organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan ginjal sebenarnya tetap bekerja meski orang sedang tidur. Berbeda dengan otak dan otot.

Masalah baru muncul jika ada pemicu lainnya. Misalnya, punya faktor risiko penyakit atau ‘mengisi’ tubuh dengan zat-zat berbahaya seperti kafein dari minuman berenergi. Ari menerangkan, kafein membuat detak jantung berpacu lebih keras. Tensi darah pun meningkat.

Kafein sering dikonsumsi mereka yang butuh energi ekstra karena itu seakan bisa menambah kapasitas tubuh bekerja. “Itu namanya caffeine alert,” tutur Ari. Kafein akan menaikkan kerja jantung, sehingga tubuh lebih bugar. Namun, itu sebenarnya efek sementara.

“Kenyataannya, tubuh dipaksa kerja lebih dari kapasitasnya,” ia melanjutkan.

Karena itu, Ari menyarankan tidak bekerja lebih dari delapan jam terus-menerus. Jika masih diselingi dengan istirahat, tidak terlalu masalah. “Kalau full kerja, ya tubuh eror. Pasti terasakan, kerja 12 jam saja konsentrasi pasti menurun,” ujarnya.

Toh, Ari melanjutkan, jika tubuh dipaksa bekerja lebih dari kapasitasnya, hasil yang dicapai tidak akan maksimal. “Apapun kerjanya, kualitas tidak akan maksimal,” tegasnya lagi.

Nasib Pekerja Keras

Kerja keras terkadang memang susah dipisahkan dari keseharian. Bagi sebagian orang, hasrat bekerja keras sudah tercetak dalam darah dan dagingnya. Sebagian pekerja di bidang kreatif, punya gaya hidup yang ekstrem. Hampir setiap hari mereka bekerja sampai larut.

Nasib tragis pun tak hanya menimpa Mita. Li Yuan, seorang pekerja bidang periklanan di China, juga meninggal 16 Mei 2013 lalu. Pemicunya sama: kerja terlalu keras. Padahal, usianya baru 24 tahun.

Li Yuan adalah karyawan di sebuah perusahaan periklanan, Ogilvy & Mather China. Beberapa bulan sebelum meninggal, ia bekerja sampai pukul 11 malam di kantor. Hingga akhirnyam tubuh Yuan tak tahan lagi. Senin sore, ia kolaps.

Yuan sempat menangis sebelum ia jatuh ke lantai. Teman-temannya menyebut ia mengerang kesakitan. Akhirnya, dokter mendiagnosis ia meninggal karena penyakit jantung. Yuan pun tak sendiri. Mengutip Daily Mail, sekitar 600 ribu orang meninggal di China tiap tahunnya karena terlalu keras bekerja.

Rata-rata karena stres, yang kemudian berujung pada penyakit jantung dan stroke. Beberapa gangguan juga dialami para pekerja keras, seperti insomnia, anoreksia, dan masalah pencernaan.

Bagi pekerja bidang periklanan di Indonesia, sakit karena kelelahan bekerja pun sudah jadi hal yang biasa. Bagaimana tidak, mereka dituntut terus “hidup” selama hari kerja. Belum lagi keharusan lembur tanpa ada jadwal pasti. Semua seakan menganut sistem kejar target.

Demi tenggat waktu dan memuaskan klien, tubuh diforsir. Saat itulah, mereka biasanya terserang maag sampai tifus. Sebab, pola makan dan hidup tak teratur. Seorang desain grafis di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta menyebutkan, demi proyek timnya bisa bekerja hingga 11 jam.

“Itu lebih ke tanggung jawab sama perusahaan dan merek yang kita pegang juga. Karena kerjaan kita kan kejar target,” ujarnya. Dalam sehari, ia bisa beristirahat hanya beberapa jam.

Mantan pekerja sebuah perusahaan iklan juga mengakui, tak ada jam kerja di dunianya. Jam kantor tak berlaku. Karyawan tetap harus selalu siap kerja sampai malam. Selama beberapa hari, ia bisa tak pulang ke rumah. Biasanya, itu karena atasan tak mampu menolak permintaan klien. Ujung-ujungnya, karyawan yang tertekan.

Sponsored Ads

Topik Populer: